9.02.2023

David Sudirdjo dan Jason Sudirdjo: Pendiri Masa AI – Solusi Masa Depan Program Edukasi Cerdas

 

Davyn Sudirdo dan Jason Sudirdjo pendiri Masa AI dalam bidang pendidikan 

Dunia teknologi Indonesia sedang dihebohkan oleh kedua sosok kakak beradik bernama Davyn Sudirdjo dan sang adik Jason Sudirdjo.

Pasalnya Davyn SudirdjoJason Sudirdjo, dan Wilson Liang asal Amerika Serikat mendirikan Startup bernama Masa AI – sebuah website yang menghadirkan berbagai inovasi yang mengubah cara kita berinteraksi dengan internet dan teknologi digital.

Davyn Sudirdjo dan Jason Sudirdjo menghadirkan salah satu terobosan paling menarik yaitu kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam bidang pendidikan.

Baca Juga: 7 Tips Sukses Cara Dapat Kerja Bagi Fresh Graduate Demi Pekerjaan Impian, Nomor 6 Berguna Banget

Masa AI mampu meningkatkan kemampuan sistem komputer untuk belajar, beradaptasi dalam dunia pendidikan.

Mengenal Davyn SudirdjoJason Sudirdjo dan Wilson Liang

Sejak kecil Davyn Sudirdjo (22), ia sudah menunjukkan ketertarikan yang besar pada dunia komputer dan pemrograman.

Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, David melanjutkan studi di bidang teknik komputer dan mendalami ilmu kecerdasan buatan di salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Baca Juga: Viktor Axelsen Juara Japan Open 2023, Jonatan Christie Runner-Up, Warganet Twitter Sebut Susah Lawan Alien

Sedangkan sang adik Jason Sudirdjo (20) sedang merupakan mahasiswa aktif di sebuah universitas di Berkeley.

Sementara Wilson Liang (23) merupakan lulusan Master dari Computer Science di Stanford.

Perjalanan Pendiri Masa AI Website

Setelah menyelesaikan studinya, David dan adiknya bersama Wilson bertekad untuk menghadirkan terobosan teknologi AI yang berarti bagi masyarakat.

Dia mendirikan perusahaan teknologi Masa AI Website dengan visi untuk menciptakan website cerdas yang dapat memberikan pengalaman unik bagi penggunanya.

Davyn Sudirdo dan Jason Sudirdjo pendiri Masa AI dalam bidang pendidikan (Bonsernew.com/instagram/davynsudirdjo)

Masa AI Website pertama kali diluncurkan sebagai platform website builder yang menggunakan teknologi AI untuk membantu pengguna membuat website dengan cepat dan mudah.

Dengan menggunakan AI, Masa AI Website dapat menganalisis preferensi pengguna, konten yang mereka miliki, dan bahkan tujuan dari website yang ingin dibuat untuk menghasilkan program edukasi yang sesuai dengan kebutuhan dan selera pengguna.

Ini memungkinkan pekerja atau individu untuk mengembangkan dan memiliki keterampilan salah satunya adalah Bahasa Inggris.

David Sudirdjo dan timnya terus berinovasi dan mengembangkan Masa AI Website dengan berbagai fitur AI terbaru.

Saat ini mereka berfokus pada dua produk unggulannya yaitu JennieTest dan JennieSpeak. Untuk detail masing-masing produk akan penulis bahas dilain kesempatan.[]

 

Halaman:

1

 

2

 

Sebelumnya

Editor: Vanda Dwi Andriyani

 

 

 

https://www.bonsernews.com/lifestyle/4799646034/mengenal-sosok-david-sudirdjo-dan-jason-sudirdjo-pendiri-masa-ai-solusi-masa-depan-program-edukasi-cerdas

8.13.2023

Persiden Ri. Ir H: Joko Widodo. TEGAS DAN TEGAR!

 


Persiden Ri. Ir H: Joko Widodo. TEGAS DAN TEGAR!

 

Saya Disini, Dan Akan Tetap Disini, Sampai Tugas Saya Selesai.

 

Jangan Harap Saya Pergi Begitu Saja, Karena Itu Akan Menjadi Mimpi Buruk Buat Kalian Yg Menginginkan Kekuasaan.

 

Jangan Pernah Berharap Saya Meninggalkan Tugas Saya.

 

Jangan Pernah Berharap Saya Mundur Untuk Kalian.

Saya Joko Widodo Pantang Pulang Sebelum Menang.

 

Saya Joko Widodo Tidak Apa2 Kalian Hujani Dengan Hujatan, Dengan Caci Maki, Sampai Kalian Muntah Darahpun Saya Akan Tetap Disini.

 

Saya Tidak Apa2, Kalian Benci, Walau Kebencian Kalian Mendarah Daging Di Tubuh Kalian, Saya Sejengkalpun Tidak Akan Berubah, Untuk Tetap Disini.

 

Ini Indonesia Bukan Negara Mentah2, Disini Saya Lahir, Disini Saya Besar, Disini Saya Mengulik Ilmu, Disini Pula Saya Harus Menjadi Anak Bangsa Yg Berbakti Kepada Negeri.

 

Disini Juga Saya Akan Menjadikan Negara Yg Di inginkan Pendahulu, Persiden Pertama: Bung Karno, Beliau Menginginkan Indonesia Raya.

 

Ini Indonesia Saatnya Kita Bangkit Untuk Masa Depan Seluruh Rakyat.

 

Saya Tidak Punya Beban Masa Lalu, Tapi Masa lalu Bung Karno Adalah Beban Saya, Yg Harus Saya Perjuangkan.

 

Saya Tidak Takut Sama Manusia Hidup Di Bumi Ini, Mau Itu Orang Peribumi, Atau Orang Luar Sekalipun.

 

Tapi Yg Saya Takutkan Kalau Saya Menjadi Persiden Yg Tidak Amanah Buat Seluruh Rakyat Indonesia, Hanya Itu Yg Saya Takutkan Selama Ini. Dan Yg Lebih Saya Takuti Lagi Hanya Kepada Sang Pencipta Allah SWT.

 

Makanya Saya Tidak Akan Pernah Pergi, Hanya Untuk Kepentingan Diri Saya Sendiri.

 

Dan Saya Akan Pergi Kalau Tugas Saya Selesai, Baik Tidak Baik, Hanya Takdir Yg Bisa Menentukan.

 

 

https://www.facebook.com/102252147824231/posts/245806693468775/

 

7.01.2023

UI Milik Indonesia

 


UI Milik Indonesia Bukan Ikhwanul Muslimin, HTI, Jamaah Tabligh, Salafi Wahabi& Syiah

 

 

Sudah menjadi rahasia umum, selama tiga dekade, kampus-kampus negeri menjadi tempat kaderisasi gerakan Islam transnasional. Gerakan yang berafiliasi kepada gerakan Islam di Timur Tengah.

 

Ikhwanul Muslimin (IM) dan Hizbut Tahrir (HT) yang lebih banyak berwarnai Masjid, lembaga dakwah kampus, dan lembaga-lembaga kemahasiswaan lainnya. Jama’ah Tabligh, Syi’ah dan Salafi Wahabi, juga ada. Namun mereka minoritas.

 

Jama’ah Tabligh dan Salafi Wahabi membentuk kelompok kajian tersendiri, secara non formal di teras-teras masjid. Sedangkan Syi’ah, biasanya ikut ke dalam kelompok-kelompok kajian formal di luar lembaga kemahasiswaan yang dikuasai kader-kader IM dan HT.

 

Sedang, mahasiswa-mahasiswa dari organisasi Islam lokal seperti NU, Muhammadiyah dan Persis mempunyai lembaga sendiri yang bersifat ekstra kampus. Entah mengapa, mahasiswa-mahasiswa itu kurang berminat aktif dan menguasai lembaga-lembaga kemahasiswaan intra kampus. Satu dua saja, secara pribadi ikut ke dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan intra kampus.

 

Kampus menjadi medan tempur antar gerakan Islam transnasional. Bukan saja di tingkat mahasiswa melainkan juga di tingkat dosen dan staf kependidikan. Setiap kelompok transnasional mempunyai orang khusus yang menjadi supervisor bagi gerakan mereka di kampus.

 

Di Universitas Indonesia (UI), hegemoni mahasiswa kader-kader PeKaeS yang dulunya bernama Jama’ah Tarbiyah yang berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin, di lembaga dakwah kampus dan lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas sulit dipatahkan oleh kelompok lain.

 

Hal ini karena jumlah kader mereka yang paling dibandingkan dengan kelompok lain dan mereka yang lebih dulu membangun jaringan. Dapat dipastikan kader PeKaeS. Ketua Senat Fakultas dan BEM UI, mayoritas diduduki oleh kader PeKaeS.

 

Sementara Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Salafi Wahabi dan Syi"ah, boleh dikatakan tidak berkutik melawan hegemoni Ikhwanul Muslimin di UI.

 

Dominasi Ikhawanul Muslimin satu sisi menguntungkan gerakan mereka. Mereka bisa menggunakan lembaga dan tentu saja juga dana kemahasiswaan untuk agenda rekrutmen, pembinaan dan pelatihan kader mereka.

 

Di sisi lain, membuat gerakan kemahasiswaan menjadi satu warna, beku dan partisan. Mahasiswa non-Ikhwanul Muslimin memilih apatis ketimbang aktif di lembaga kemahasiswaan. Mereka mengisi waktu di luar jam kuliah dengan mengerjakan tugas di perpustakaan atau rehat di kantin.

 

Realitas yang bertolak belakang dengan maksud dan tujuan dibentuknya lembaga dakwah kampus dan lembaga kemahasiswaan yaitu untuk mengembangkan minat, bakat dan potensi mahasiswa tanpa diskriminasi aliran, kelompok dan gerakan.

 

Bahwa langkah dan upaya sejumlah Rektor UI yang ingin mengembalikan lembaga-lembaga di kampus ke rel-nya yang benar, harus didukung, karena UI milik semua mahasiswa Indonesia. Bukan milik kelompok tertentu.

 

Bahwa, UI milik Indonesia bukan milik Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Salafi Wahabi dan Syi’ah. Mari Indonesia-kan kembali kampus UI.

 

 SUMBER;

https://tribunrakyat.com/14911/15/03/2020/ui-milik-indonesia-bukan-ikhwanul-muslimin-hti-jamaah-tabligh-salafi-wahabi-syiah.html