12.26.2017

Rainbow Currency 27 Desember 2017 - jam.01:57 WIB selasa dnhari


Rainbow Currency is traded on selected exchanges:
1 Twinkle (TWNKL) = US$0.205 (+1,950.0%)

Token Address: 0xfbd0d1c77B501796A35D86cF91d65D9778EeE695


10.22.2017

Kalahkan Soeharto, Jokowi Jadi Presiden Paling Banyak Bangun Tol

Presiden Joko Widodo (Jokowi) benar-benar merealisasikan target untuk membangun konektivitas dan infrastruktur di Indonesia dalam masa tiga tahun kepemimpinanya. Salah satu proyek infrastruktur yang terbangun adalah jalan tol.


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan di Kantor Kepala Staf Kepresidenan, Rabu (18/10/2017), mengatakan saat ini jalan tol yang dibangun pemerintah sudah banyak. Bahkan, panjang jalan tol yang dibangun di masa pemerintahan Joko Widodo telah memecahkan rekor.

"Jadi jalan tol yang sudah dibangun di pemerintahan Pak Jokoiwi-JK itu paling banyak dari sebelum-sebelumnya, panjangnya 568 kilometer (km)," kata Luhut.

Dari data yang Luhut paparkan, dalam kepemimpinan Presiden Soeharto selama 32 tahun, hanya 490 km jalan tol yang berhasil terbangun. Sementara di era kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono total jalan tol yang dibangun sepanjang 212 km.

Beberapa presiden lainnya nampaknya tak mampu berbuat banyak dalam membangun infrastruktur jalan tol ini. Terbukti di era Presiden Megawati Soekarno Putri, hanya 34 km yang terbangun, di era Presiden Presiden BJ Habibie hanya 7,2 km, dan bahkan saat Indonesia dipimpin Presiden Abdurrahman Wahid hanya 5,5 km jalan tol yang terbangun.

"Saya suka kinerja Pak Basuki itu, tidak banyak omong tapi jalan terus pembangunan," tegas Luhut.



Era Jokowi Paling Banyak Bangun Jalan Tol
Metrotvnews.com, Jakarta: Pembangunan infrastruktur, khususnya tol, terus menjadi prioritas pemerintah guna mendorong pemerataan daerah dan memajukan perekonomian nasional.

Tercatat, sejak awal pemerintahan hingga 2016, panjang tol yang telah dibangun pemerintahan Joko Widodo mencapai 176 kilometer (km). Jumlah itu jauh di atas capaian pembangunan tol pada masa pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
Pada tahun ini, ruas tol yang telah terbangun secara menyeluruh dan siap dioperasikan ditargetkan mencapai 568 km.

"Sejak tol pertama di era Presiden Soeharto dibangun pada 1978 hingga 1998, selama 20 tahun, hanya 490 km," ujar Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Endra Saleh Atmawidjaja, Senin 12 Juni.

Baca: Jokowi Fokus Bangun Infrastruktur Genjot Perekonomian

Sementara itu, pada masa pemerintahan periode presiden BJ Habibie, tol yang terbangun hanya 7,2 km. Di era Abdurrahman Wahid, ruas tol yang terbangun 5,5 km. Sementara itu, pada masa Megawati Soekarno Putri, panjang tol yang dibangun ialah 34 km.

"Pada masa SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang 10 tahun memerintah hanya 212 km," tuturnya.

Endra menekankan pembangunan infrastruktur jalan tidak bisa hanya terpusat di Jawa saja, tetapi juga di pulau-pulau besar lain, seperti Sumatra dan Kalimantan.

"Ini tidak sekadar jalan, tapi menyangkut ketahanan pangan dan kualitas hidup masyarakat. Dengan akses jalan yang baik, pengangkutan logistik akan berjalan dengan lancar dan kegiatan ekonomi pun bisa terangkat," tandasnya.

Baca: Jokowi: 70 Tahun, Indonesia Baru Punya 840 Km Jalan Tol

Kerja positif pemerintahan Jokowi itu berkorelasi dengan tingkat kepuasan masyarakat.

Berdasarkan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) baru-baru ini, sebanyak 74,8 persen dari 1.350 responden dari seluruh Indonesia mengakui arah perjalanan bangsa Indonesia kini sudah benar.

Sebanyak 40,5 persen responden merasa kondisi perekonomian membaik ketimbang tahun lalu. Kinerja pemerintah di bidang politik, penegakan hukum, dan keamanan juga baik di mata masyarakat. (Media Indonesia)

8.18.2017

Gus Nuril: Doa Bang Tiffatul-Guyon sambil DOA Ok saja….

"Ya Allah engkau tahu, bahwa aku tidak mampu mensyukuri segala nikmat nikmat mu, wong menghitung nikmat saja tidak mampu apalagi mensyukurinya ,( wa in ta'udzu nikmatalloh la tuhshuha). Maka tolonglah Engkau bersyukur kepada diri Mu sendiri atas nama ku "

Doa ini karena dilantunkan oleh Maulana sufi yang menjadi musuh negara, atau penguasa saat itu, maka do'a ini secara subyektif sefihak di anggap kurang ajar sekali, salah dan ,dianggap menyimpang, dari tatatanan agama, bahkan lebih berat dari itu semua -dia di tuduh menista Tuhan. Vonis hakim penguasa menjatuhkan hukuman mati.

Doa Bang Tiffatul...
Dan Abu Mansyur Husein Al Halaj
Saudaraku bangsa Indonesia selamat harlah ke 72 Th, Bangsa yang terkenal lemah lembut,ramah dan pemaaf , tetapi belakangan ini suka marah . Mulai Luntur budi pekertinya dan kini punya stempel baru sebagai bangsa yang rajin melakukan amuk masa.
Bahkan hanya dengan atau karena perkara sepele saja sudah bisa menggerakan tangan untuk membunuh dan membakar "musuh" yang padahal itu belum tentu salah. Baik membakar dalam artian kiasan maupun fisik.
Sengaja... tulisan ku yang kali ini menyentuh soal kawasan intim dan sensitif. Sebenarnya sih....Sebenarnya , esensinya biasa saja, tidak istimewa bahkan sangat elementry.
Persoalan esensinya, ada seseorang yang hidup di kawasan 'stereotipe' kepingin akrab dengan Tuhan dan lawan Politik itu dapat tugas untuk berdoa. Hanya berdoa. Ya hanya. Dia itu Bekas Menteri penerangan dari PKS , bang Tifatul. Saya mengenal nya meski kurang akrab
Barangkali sih.....Karena dia gencar , baik partainya dan Ormas radikal ingin meng kembalikan Piagam jakarta dan mensyariah kan DKI , maka ...dalam situasi hajatan Hajatan Nasional, Karena nikmat Allah atas kemerdekaan. Diadakan di Istana.
Biasa saja..... gak ada hebatnya. Wong selama ini , upacara upacara seperti itu sudah kehilangan Ruh nya, itu pun jika tidak boleh disebut ;
"hanya lamis, sebagai kegiatan politik protokoler." Guyon politik atau malah hanya pameran situasi siapa menguasai siapa. 'Politiking' lah .
Esensi Doa
Doa itu ibadah. Maka doa itu boleh saja menggunakan pakem resmi tuntunan masih masing agama yang di peluk nya atau boleh menggunakan bahasa sendiri , tata cara sendiri, rumus sendiri di tempat dan kondisi tertentu. Artinya doa itu bebas tidak terikat dalam ruang dan waktu.
Karena doa itu ibadah, maka memiliki unsur ke dekat an seseorang kepada Allah, Sang Khaliqnya. Kedekatan itu, biasa nya juga akan menimbulkan warna dan ekspresinya, sesuai dengan ilmu, dan adat kebiasaan masing masing.

Maka , wajar jika Abu Mansyur Husein al halaj, ulama sufi yang mengarang 115 kitab ( di abad kedelapan atau sebelas, jika tidak khilaf ) ini memiliki keunikan tersendiri saat berekspresi dalam doa nya. Dia berdoa ;
"Ya Allah engkau tahu, bahwa aku tidak mampu mensyukuri segala nikmat nikmat mu, wong menghitung nikmat saja tidak mampu apalagi mensyukurinya ,( wa in ta'udzu nikmatalloh la tuhshuha). Maka tolonglah Engkau bersyukur kepada diri Mu sendiri atas nama ku "
Doa ini karena dilantunkan oleh Maulana sufi yang menjadi musuh negara, atau penguasa saat itu, maka do'a ini secara subyektif sefihak di anggap kurang ajar sekali, salah dan ,dianggap menyimpang, dari tatatanan agama, bahkan lebih berat dari itu semua -dia di tuduh menista Tuhan. Vonis hakim penguasa menjatuhkan hukuman mati.
Meski di hukum dengan semena, (saya tidak akan mencerita kan jalan nya eksekusi hukuman yang sangat tidak manusiawi dan biadab) Guru Sayidina Abubakar asy Syibliy ( lihat kitab nashoihul ibad , nasehat bagi para ahli ibadah) , yang sangat terkenal juga meng inspirasi sufi dunia, Maulana Inayat Khan, dan Maulana Rummy ,serta sastrawan dunia Muhammad Iqbal.
Pembaca dan santri FB- perlu di ketahui juga , bahwa ; gerak doa dan ke eksentrikan " Jesus min Basra " ini juga di warisi oleh seorang ulama jawa yang berasal dari pengembaraan nya di Parsyi, atau Basra ( sekarang menjadi daerah atau negara ; Iran, Irak, kuwait, dan yordan ? ) bahkan pada abad XIII, ditanah jawa ada tokoh serupa yang di kenal dengan sebutan ; syeikh Lemah Abang
Transedent
Bahkan dulu ada seorang perempuan yang demikian hebat nya dalam "bercinta"dengan Robb nya. Dia seorang alim Zuhud , wiro'i, Wali wanita yang luar biasa yang kemudian ditangkap oleh para pedagang budak. Rabbi'ah al addawiyah , namanya.
Perempuan Sholehah ,Sufi dan Auliya, itu juga di kenal luas sangat luar biasa kekramatan nya......Dia senantiasa berdoa, ber munajad ,ber dialog dan bercakap cakap serta ber asyik masyuk dengan Allah, sehingga menisbikan cinta seorang raja sufi bernama Maulana Syeikh Hasan al Bashri, min Bashra. Sang wali perempuan ini berdoa ;
"ya Allah masukan aku di dalam Neraka Mu, sepanjang aku dapat melihat wajah Mu...."
Saudaraku yang budiman, Doa doa kedua Auliya Allah ini sangat bersayap. Dalam sekali maknanya, tidak bisa diartikan dengan kalimat yang nampak di permukaan saja ,tetapi lebih daripada itu musti dicari logika dalil yang mana , yang melahir kan sebuah permohonan privat bernama doa itu.
Demikian halnya doa yang di ekspresikan oleh bang Tifatul Sembiring ketika dia berdoa di istana, dengan kalimat pilihan akrab atau mencoba mengakrabi Tuhan dan tentunya karena politikus maka wajar berprinsip sekali dayung dua pulau di lampui untuk yang di doakan;
" ya Allah gemukan badan Presiden ku, pak Jokowi, karena selama ini badan semakin kurus. "
Saya sendiri suka berdoa di antara Sofwa dan marwa di Makah, sembari disirami air zam zam, sembari didoa in ; ya Allah panjengan jadikan air zam zam ini untuk menghilangkan gering pongkring, atau kurus ben dadi daging. Gemukan badan,dompet dan rejeki.
Doa semacam ini, boleh semua itu sah sah saja, dan boleh kok hukumnya. Orang NU biasa begitu, bahkan ada doa yang ditulis dan di simpan di dompet. Ada yang di tulis dipunggung seseorang dalam bentuk wafak.
Yang jadi masalah itu, Bang Tifatul orang PKS akrab dengan FPI dan HTI dan GNF MUI, MTA, meskipun mengku ahlusunah wal jamaah, semua orang tahu kok , dia itu berpaham ( nya ) wahabi ,budaya budayanya impor dari Arab . " Lho kok dungo coro NU, cara yang selama ini di anggap oleh kelompok nya sebagai tindakan ; salah, bid'ah bahkan sesat... ya gegerlah...hahaha......

Jika boleh meminjam bahasa nya sebelah ini langkah taqiyah yang wagu dan setengah hati.oooo politik. Oooo
Semarang Sokotunggal
Abu Salman Al Farizi
Gus Nuril Arifin